Seandainya

“Seandainya” entah kenapa kata ini sekarang benar-benar saya hindari bahkan saya hapuskan… sudah hampir 1,5 bulan ini saya selalu terjebak dengan kata “seandainya”, yang pada akhirnya kata itu justru membuat segalanya menjadi diluar dari bayangan saya. Saya terlalu sibuk dengan “bagaimana seandainya jika nanti…..”, “bagaimana seandainya jika dulu tidak….”. Kata seandainya sekarang membuat saya kehilangan orang yang saya sayangi. Yah sebut saja dia adalah Pelangi saya.. sudah pernah saya tulis sebelumnya di tumblr ini, betapa saya bersyukurnya sama Tuhan sudah dipertemukan dan mengenal dia.. selain itu saya juga harus berterima kasih buat BlackBerry messenger, Twitter, dan seorang kakak tingkat saya saat masih kuliah dulu. Oiya, saya juga berterima kasih buat rasa penasaran saya yang terlalu tinggi, yang pada akhirnya menggiring saya buat liat blog “si pelangi” ini dari link di twitter dia. Rasa kagum dengan tulisan-tulisan dia, membuat saya tertarik dengannya dan memutuskan untuk mem-follow akun twitter miliknya.

Saya akui saya dalam keadaan yang bisa dibilang dalam keadaan sangat tidak baik, saya sangat patah hati, semalaman saya menangis (hingga saat ini) karena kehilangan pelangi saya, dan betapa saya menyesal kenapa baru sadar sekarang setelah semuanya menjadi sangat kacau. Saya sudah menyia-nyiakan “si pelangi” yang kuat dan bahkan rela bertahan dengan saya yang pemikirannya rumit. Saya baru saja membaca blog milik “si Pelangi”. Saya hanya bisa menghela napas, ternyata saya sudah banyak “menyiksanya”. Bukan menyiksa dalam arti fisik, tapi batin, dan jujur saya sedih membaca beberapa tulisan terakhir dia.. saya merasa sudah menyakiti orang yang saya sayangi. Dia pernah menulis di Blog milik dia dulu sehari setelah kami resmi dan sepakat untuk untuk berpacaran. Si Pelangi menuliskan dalam bentuk dialog. Dialog tersebut antara dia dengan DIA, pada satu dialog, si Pelangi menulis supaya Kadonya jangan diambil lagi, yang mana kado itu adalah saya, dan tokoh DIA, dalam dialog ini disebutkan sebagai FATHER (Bapa), berjanji tidak akan mengambil kadonya asalkan si pelangi bisa menjaga dengan baik kado itu, dan Pelangi pun menyanggupinya. Dalam dialog percakapan antara dia dengan DIA, saya tersadar, si Pelangi sudah menjaga kado itu, menjaga saya, memepertahankan saya, tapi ternyata saya yang gak bisa menjaga kado milik saya. DIA  sudah memberikan pelangi buat menceriakan hari2 saya, yang pada akhirnya DIA mengambil Pelangi itu lagi dari hidup saya, dan menutupnya dengan awan hitam karena saya terus saja mengeluh “kenapa gini”, “kenapa gitu”, “seandainya nanti”, “seandainya dulu”.

“Seandainya” kamu resmi dihapus dari kamus saya mulai sekarang, oh.. lebih tepatnya mulai kemarin, hari dimana saya kehilangan “pelangi” saya itu. Saat ini saya lebih memilih untuk belajar dari masa lalu, dan berusaha agar lebih baik kedepannya, saya nggak mau lagi ngomong “seandainya” yang sebenernya memang belum tentu terjadi, dan yang sebenernya memang suatu hal yang sudah terjadi dan gak perlu lagi dibahas. Saya sudah kehilangan sesuatu yang berharga di hidup saya, saya kehilangan Pelangi saya, dan maaf Tuhan, KiKy gak bisa jaga Kado berisi Pelangi buat KiKy, KiKy minta maaf, nyesel dan janji sama Tuhan kalo akan belajar dari semua ini.. KiKy selalu nunggu “Pelangi” itu lagi.. iya… nunggu dia muncul di hari-hari KiKy lagi….

P.S :

Pelangi, aku sayang kamu

(Ria Djenaka, 12 Mei 2010, 3.30 pm)

Notes